KARYA TULIS ILMIAH


PROBLEMATIKA KETERAMPILAN BERBICARA DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD

 

 M A G F I R A

1147040373

21.B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2012

 

PRAKATA

Puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat, taufik, dan karuniah-Nya, karya tulis ilmiah (KTI) yang berjudul “Problematika Keterampilan Berbicara dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di SD” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis Karya Tulis (KTI) ini dapat diselesaikan berkat kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak. Penulis menyadari banyak masukan saran dan kritik yang membangun, sehingga mendorong penulis untuk bekerja  lebih giat dalam menyelesaikan tulisan ini. Untuk itu, penulis dengan segala kerendahan hati menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

  1. Bapak Drs. Abd. Hafid, S.Pd, M.Pd  selaku pembimbing KTI  yang telah mengeluarkan waktu membimbing, memberi motivasi, mengarahkan dan mempertajam ide-ide penulis sehingga KTI dapat diselesaikan.
  2. Orang tua penulis, yang telah memberikan dukungan berupa bantuan moril dan materi selama penulis menyusun KTI ini.
  3. Rekan-rekan penulis yang bekerja sama dan memberi masukan kepada  penulis, sehingga tulisan ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih  jauh dari kesempurnaan. Olehnya  itu, kritik dan saran sangat diharapkan untuk  kesempurnaanya. Semoga  tulisan ini bermanfaat untuk mengatasi berbagai problematika dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa.

Watampone, 13 Juni 2012

                                                                 Penulis,

                                                                 M A G F I R A

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul …………………………………………………………………  i

Prakata…………………………………………………………………………… ii

Daftar Isi………………………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang …………………………………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………… 3
  3. Tujuan Penulisan…………………………………………………………. 3
  4. Manfaat Penulisan ………………………………………………………. 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA

  1. Hakikat Problematika……………………………………………………. 4
    1. Pengertian Prolematika…………………………………………….. 4
    2. Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Problematika………….. 4
    3. Hakikat Berbicara…………………………………………………….. 7
      1. Pengertian Berbicara……………………………………………. 7
      2. Tujuan Berbicara…………………………………………………. 9
      3. Jenis-jenis Kegiatan Berbicara………………………………. 10
      4. Metode Berbicara………………………………………………… 12
    4. Problematika Keterampilan Berbicara dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di SD…………………………………………… 13

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan………………………………………………………………… 21
  2. Saran………………………………………………………………………… 22

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….. 23

RIWAYAT HIDUP……………………………………………………………………………. 24

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Dunia pendidikan senantiasa memerlukan adanya informasi yang berkelanjutan dalam merencanakan dan menyelenggarakan pendidikan di masa depan. Reformasi pendidikan menginginkan adanya peningkatan keterampilan dalam berbagai aspek kehidupan. Pendidikan dewasa ini harus menjadi prioritas utama bangsa dan Negara dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 alenia ke empat : mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Hal tersebut kemudian dijabarkan dalam visi dan misi system pendidikan nasional yang tertuang dalam UU RI No. 20 tahun (2003:45) tentang SIKDIKNAS adalah sebagai berikut :

“ terwujudnya system pendidikan nasional sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah “.

Salah satu yang menjadi permasalahan saat sekarang dalam dunia pendidikan yang sering dijumpai dalam tataran praksis pembelajaran terkait dengan keterampilan berbicara. Dijumpainya siswa sekolah dasar kurang komunikatif dalam bentuk lisan, baik dalam bentuk monolog maupun secara dialog. Siswa sekolah dasar, biasanya lebih mudah menjawab atau menguraikan suatu persoalan dalam bentuk tulisan disbanding dengan lisan (M. Fucoult;23)

Realitas yang terjadi dalam pengajaran, tanpa kemampuan dan keterampilan berbicara akan mengakibatkan terjadinya miss komunikasi antara siswa dan guru di sekolah. Begitu pula pelajaran bahasa Indonesia dalam pembelajaran, misalnya, murid tidak akan bias aktif dalam diskusi, dan daya kritis dan gagasan anak tidak akan mampu ditransformasikan kepada orang lain dalam bentuk ide, mentalitas bahasa anak akan kurang, dan paling tragis dan ironis sekolah hanya akan menghasilkan generasi bisu dan kaku.

Sehubungan dengan itu guru sebagai figur sentral, hendaknya program pengajaran berbicara dilandasi dengan pendekatan yang relevan sehingga kegiatan belajar mengajar membuat siswa secara aktif mengalami kegiatan belajar berbicara dengan baik dan benar. Pendekatan tersebut adalah pendekatan pembelajaran diskusi kelompok, cara pembeljaran siswa aktif, tanya jawab serta komunikatif dalam pengajaran bahasa secara menyeluruh dan totalitas.

Hal ini penting untuk dibicarakan karena pada jenjang sekolah dasa inilah para siswa sekolah dasar menerima peletakan dasar-dasar berbicara yang diharapkan dapat berlatih berbicara, yang pada akhirnya siswa sekolah dasar terampil berbicara di kelas dan di luar kelas. Dalam pembelajaran berbicara siswa dituntut pula untuk mengembangkan dalam kehidupan sehari-harinya misalnya ketika mereka berada di lingkungan keluarganya serta lingkungan masyarakat. Dalam hal ini semua diharapkan dapat dimulai ketika anak duduk di bangku sekolah.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas yaitu bagaimana problematika keterampilan berbicara dalam pengajaran bahasa Indonesia di SD?

C.    Tujuan penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan penulisan :

  1. Untuk mengetahui problematika keterampilan berbicara dalam pengajaran bahasa Indonesia di SD.
  2. Untuk mendeskripsikan problematika keterampilan berbicara dalam pengajaran bahasa Indonesia di SD

D.    Manfaat PenulisanHasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan bisa bermanfaat:

  1. Bagi siswa; sebagai wujud pengalaman belajar yang berpusat pada subyek didik, dirasakan menyenangkan, bisa memacu aktivitas belajar, meningkatkan keterampilan berbicara secara runtut, baik dan benar dan juga bisa meningkatkan prestasi belajar mereka.
  2. Bagi guru yang bersangkutan dan teman sejawat; hal ini setidaknya bisa mendorong semangat untuk lebih meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.
  3. Bagi sekolah; karya tulis ilmiah ini setidaknya bisa dijadikan sebagai referensi untuk menambah dan memperkaya khazanah kepustakaan pendidikan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.    Hakikat Problematika

1.      Pengertian Problematika

Sebelum lebih lanjut, terlebih dahulu penulis mengemukakan berbagai macam defenisi tentang problematika. Problematika adalah kumpulan dari berbagai macam masalah/kendala yang ditemukan, karena adanya faktor yang menyebabkan (Hastuti 1989:39). Sedangkan menurut (Zuchdi 1995: 126), bahwa problematika adalah bentuk kesulitan yang dihadapi dan tidak terwujudnya hal yang diinginkan dengan yang terjadi di lapangan sehingga terjadi masalah atau problem. Lebih luas lagi (Supriadi 1994:19) menambahkan bahwa problematika adalah persoalan yang dihadapi di lapangan, dan problematika akan terjadi ketika cita yang diharapkan berbeda dengan realitas yang dihadapi.

Masalah adalah adanya kesenjangan antara das sollen /teori dengan dassein/fakta empiris; antara yang ditetapkan sebagai kebijakan dengan implementasi kebijakan.

2.      Faktor-faktor Penyebab Timbulnya Problematika

Kesulitan belajar merupakan suatu gejala yang nampak dalam berbagai jenis pernyataan (manifestasi). Karena guru bertanggung jawab terhadap proses belajar-mengajar, maka ia seharusnya memahami manifestasi gejala-gejala kesulitan belajar. Pemahaman ini merupakan dasar dalam usaha memberikan bantuan kepada murid yang mengalami kesulitan belajar.
Pada dasarnya dari setiap jenis-jenis masalah, khususnya dalam masalah belajar murid di SD, cenderung bersumber dari faktor-faktor yang melatarbelakanginya ( penyebabnya ). Seorang guru setelah mengetahui siapa murid yang bermasalah dalam belajar serta jenis masalah apa yang dihadapinya. Selanjutnya guru dapat melaksanakan tahap berikutnya, yaitu  mencari sebab-sebab terjadinya masalah yang dialami murid dalam belajar. Meskipun seorang guru tidak mudah menentukan sebab-sebab terjadi masalah yang sesungguhnya, karena masalah belajar cenderung sangat kompleks.

Pada garis besarnya sebab-sebab timbulnya masalah belajar pada murid dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :

a)      Faktor-faktor Internal (faktor-faktor yang berada pada diri murid itu sendiri), antara lain:

  • Gangguan secara fisik, seperti kurang berfungsinya organ-organ perasaan, alat bicara, gangguan panca indera, cacat tubuh, serta penyakit menahan (alergi, asma, dan sebagainya).
  • Ketidakseimbangan mental (adanya gangguan dalam fungsi mental), seperti menampakkan kurangnya kemampuan mental, taraf kecerdasannya cenderung kurang.
  • Kelemahan emosional, seperti merasa tidak aman, kurang bisa menyesuaikan diri (maladjustment), tercekam rasa takut,  benci, dan antipati serta ketidakmatangan emosi.
  • Kelemahan yang disebabkan oleh kebiasaan dan sikap salah seperti kurang perhatian dan minat terhadap pelajaran sekolah, malas dalam belajar, dan sering bolos atau tidak mengikuti pelajaran.

b)      Faktor Eksternal ( faktor-faktor yang timbul dari luar diri individu ), yaitu berasal dari :

  • Sekolah, antara lain :

– Sifat kurikulum yang kurang fleksibel- Terlalu berat beban belajar (murid) dan atau mengajar (guru)

– Metode mengajar yang kurang memadai

– Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar

  • Keluarga (rumah), antara lain :

– Keluarga tidak utuh atau kurang harmonis.

– Sikap orang tua yang tidak memperhatikan pendidikan anaknya

– Keadaan ekonomi.

Menurut Lindgren, (1967 : 55) bahwa lingkungan sekolah, terutama guru. Guru yang akrab dengan murid, menghargai usaha-usaha murid dalam belajar dan suka memberi petunjuk kalau murid menghadapi kesulitan, akan dapat menimbulkan perasaan sukses dalam diri muridnya dan hal ini akan menyuburkan keyakinan diri dalam diri murid. Melalui contoh sikap sehari-hari, guru yang memiliki penilaian diri yang positif akan ditiru oleh muridnya, sehingga murid-muridnya juga akan memiliki penilaian diri yang positif.

Jadi jelaslah bahwa guru yang kurang akrab dengan murid, kurang menghargai usaha-usaha murid maka murid akan merasa kurang diperhatikan dan akan mengakibatkan murid itu malas belajar atau kurangnya minat belajar sehingga anak itu akan mengalami kesulitan belajar. Keberhasilan seorang murid dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari sekolah seperti guru yang harus benar-benar memperhatikan peserta didiknya. Menurut Belmon dan Morolla (1971 : 107) menyimpulkan dari hasil penelitiannya, bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang banyak jumlah anak, mempunyai keterampilan intelektual lebih rendah daripada anak-anak yang berasal dari keluarga yang jumlah anaknya sedikit.

B.     Hakikat Berbicara

1.      Pengertian Berbicara

Seperti telah kita ketahui bahwa dalam kegiatan menyimak aktivitas kita awali dengan mendengarkan dan diakhiri dengan memahami atau menanggapi. Kegiatan berbicara tidak demikian . Kegiatan berbicara diawali dari suatu pesan yang harus dimiliki pembicara yang akan disampaikan kepada penerima pesan agar penerima pesan dapat menerima atau memahami isi pesan itu. Manusia sebagai makhluk sosial memerlukan hubungan dan kerja sama denagn manusia lain. Hubungan dengan manusia lainnya itu antara lain berupa menyampaikan isi pikiran dan persaan, menyampaikan suatu informasi, ide atau gagasan serta pendapat atau pikiran dengan suatu tujuan.

Dalam menyampaikan pesan seseorang menggunakan suatu media atau alat yaitu bahasa, dalam hal ini bahasa lisan. Seorang yang akan menyampaikan pesan tersebut mengharapkan agar penerima pesan dapat memahaminya. Pemberi pesan disebut juga pembicara dan penerima pesan disebut penyimak atau pendengar. Peristiwa proses penyampaian pesan secara lisan seperti itu disebut berbicara. Dengan rumusan lain dapat dikemukakan bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Anton M. Moeliono, dkk., 1998:114) dinyatakan bahwa berbicara adalah berkata; bercakap; berbahasa; melahirkan pendapat dengan perkataan, tulisan dan sebagainya atau berunding. Guntur Tarigan (1983 :15) berpendapat bahwa “ berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran , gagasan, dan perasaan”. Sedangkan sebagai bentuk atau wujudnya berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengomunikasikan gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Jadi, pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima pesan atau informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, berbicara itu dapat dibantu dengan mimik dan pantomimik pembicara.

Kemampuan berbicara merupakan tuntutan utama yang harus dikuasai oleh seorang guru. Jika seorang guru menuntut siswanya dapat berbicara dengan baik, maka guru harus memberi contoh berbicara yang baik hal ini menunjukkan bahwa di samping menguasai teori berbicara juga terampil berbicara dalam kehidupan nyata. Guru yang baik harus dapat mengekspresikan pengetahuan yang dikuasainya secara lisan.

2.      Tujuan berbicara

Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pasti mempunyai tujuan, ingin mendapatkan responsi atau reaksi. Responsi atau reaksi itu merupakan suatu hal yang menjadi harapan. Tujuan atau harapan pembicaraan sangat tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara. Secara umum tujuan pembicaraan adalah sebagai berikut:

  1.  mendorong atau menstimulasi,
  2. meyakinkan,
  3. menggerakkan,
  4. menginformasikan, dan
  5. menghibur.

Tujuan suatu uraian dikatakan mendorong atau menstimulasi apabila pembicara berusaha memberi semangat dan gairah hidup kepada pendengar. Reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan inpirasi atau membangkitkan emosi para pendengar. Tujuan suatu uraian disebut menggerakkan apabila pembicara menghendaki adanya tindakan atau erbuatan dari para pendengar. Misalnya, berupa seruan persetujuan atau ketidaksetujuan, pengumpulan dana, penandatanganan suatu resolusi, mengadakan aksi sosial. Dasar dari tindakan atau perbuatan itu adalah keyakinan yang mendalam atau terbakarnya emosi.

Tujuan suatu uraian dikatakan menginformasikan apabila pembicara ingin memberi informasi tentang sesuatu agar para pendengar dapat mengerti dan memahaminya. Misalnya seorang guru menyampaikan pelajaran di kelas, seorang dokter menyampaikan masalah kebersihan lingkungan, seorang polisi menyampaikan masalah tertib berlalu lintas, dan sebagainya. Tujuan suatu uraian dikatakan menghibur, apabila pembicara bermaksud menggembirakan atau menyenangkan para pendengarnya. Pembicaraan seperti ini biasanya dilakukan dalam suatu resepsi, ulang tahun, pesta, atau pertemuan gembira lainnya.

3.      Jenis – Jenis Kegiatan Berbicara

Berbicara terdiri atas berbicara formal dan berbicara informal. Berbicara informal meliputi bertukar pikiran, percakapan, penyampaian berita, bertelepon, dan memberi petunjuk. Sedangkan berbicara formal antara lain, diskusi, ceramah, pidato, wawancara, dan bercerita (dalam situasi formal). Pembagian atau klasifikasi seperti ini bersifat luwes. Artinya, situasi pembicaraan yang akan menentukan keformalan dan keinformalannya.

Langkah-langkah pembicaraan atau tata cara dalam suatu diskusi panel adalah sebagai berikut:

  1. Pemandu membacakan tata tertib dan memperkenalkan para panelis
  2. Panelis pertama diberi kesempatan berbicara dalam waktu yang telah ditentukan dalam tata tertib. Panelis pertama ini menjelaskan masalah dan pandangannya terhadap masalah sesuai dengan keahliannya
  3. Panelis kedua mengutarakan pendapat dan pandangannya terhadap masalah yang dibicarakan sesuai dengan keahliannya. Waktu yang digunakan panelis kedua ini sama dengan waktu yang digunakan oleh panelis pertama.
  4. Panelis ketiga diberi kesempatan untuk berbicara sesuai dengan keahliannya. Waktu yang digunakan sama dengan panelis pertama dan kedua.
  5. Setelah semua panelis mengutarakan pandangan mereka, diadakan diskusi informal antarpanelis disertai penjelasan mengapa mereka berbeda pendapat mengenai masalah itu.
  6. Pemandu menutup diskusi dengan menyimpulkan hasil pembicaraan para panelis. Sedangkan khalayak tidak berpartisipasi aktif dalam diskusi ini. Akan tetapi, dalam bentuk panel forum khalayak dapat berpartisipasi aktif atau mempunyai hak untuk mengemukakan pendapat. Jadi yang dimaksud dengan forum ini adalah forum terbuka, ada tanya jawab antara khalayak dengan panelis.

4.      Metode BerbicaraAda empat cara atau teknik yang dapat atau biasa digunakan orang dalam menyampaikan pembicaraan,( H.G. Tarigan ) yaitu:

  1. Metode Impromptu ‘Serta Merta’

Dalam hal ini pembicara tidak melakukakan persiapan lebih dulu sebelum berbicara, tetapi secara serta merta atau mendadak berbicara berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Pembicara menyampaikan pengetahuannya yang ada, dihubungkan dengan situasi dan kepentingan saat itu.

2.   Metode Menghafal
Pembicara sebelum melakukan kegiatannya melakukan persiapan secara tertulis, kemudian dihafal kata demi kata, kalimat demi kalimat. Dalam penyampaiannya pembicara tidak membaca naskah. Ada kecenderungan pembicara berbicara tanpa menghayati maknanya, berbicara terlalu cepat. Hal itu dapat menjemukan, tidak menarik perhatian pendengar. Mungkin juga ada pembicara yang berhasil dengan metode ini. Metode ini biasanya digunakan oleh pembicara pemula atau yang masih belum biasa berbicara di depan orang banyak.

3.  Metode NaskahPada metode ini pembicara sebelum berbicara terlebih dulu menyiapkan naskah. Pembicara membacakan naskah itu di depan para pendengarnya. Hal ini dapat kita perhatikan pada pidato resmi Presiden di depan anggota DPR/MPR, pidato pejabat pada upacara resmi. Pembicara harus memiliki kemampuan menempatkan tekanan, nada, intonasi, dan ritme. Cara ini sering kurang komunikatif dengan pendengarnya karena mata dan perhatian pembicara selalu ditujukan ke naskah. Oleh karena itu, apabila akan menggunakan metode harus melakukan latihan yang intensif.4.  Metode EkstemporanDalam hal ini pembicara sebelum melakukan kegiatan berbicara terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan cermat dan membuat catatan penting. Catatan itu digunakan sebagai pedoman pembicara dalam melakukan pembicaraannya. Dengan pedoman itu pembicara dapat mengembangkannya secara bebas.

C.    Problematika Keterampilan Berbicara dalam Pengajaran Bahasa Indonesia di SD

Guru SD bertanggung jawab atas pembinaan keterampilan berbicara para siswa. Pembinaan itu tidak dilakukan secara tersendidri melainkan terpadu dalam proses belajar-mengajar semua pokok bahasan bahasa Indonesia. Namun, agar pembinaan itu berlangsung secara terencana, dalam menjabarkan tujuan umum untuk semua pokok bahasan kedalam tujuan-tujuan khusus, guru perlu menyisipkan tujuan khusus yang mengacu pada pembinaan keterampilan berbicara (mengkomunikasikan secara lisan).

Proses belajar mengajar pada dasarnya merupakan suatu pola interaksi antara peserta didik dengan pendidik. Seorang siswa dikatakan belajar apabila dapat mengetahui sesuatu yang dipahami sebelumnya, dapat melakukan atau menggunakan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat digunakannya termasuk sikap tertentu yang mereka miliki. Sebaliknya seorang guru yang dikatakan telah mengajar apabila dia telah membantu siswa untuk memperoleh perubahan yang dikehendaki.

Guru sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar yang bertugas menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang lebih efektif dan efisien. Sebelum mengajar, guru harus merencanakan kegiatan pengajaran secara sistematis, sehingga dapat terampil dalam proses belajar mengajar.

Guru terampil sebaiknya melakukan berbagai upaya untuk peningkatan prestasi belajar siswa, hal tersebut merupakan tanggung jawab semua guru dalam memperoleh kualitas sumber daya manusia untuk mewujudkan hal di atas seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan mengajar seperti: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan memberi variasi, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan mengelola kelas, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dan keterampilan menjelaskan. Dengan demikian keterampilan mengajar tersebut harus senantiasa dikembangkan oleh guru untuk mencapai tujuan pengajaran.

Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar tentu tidak lepas dari suatu masalah yang akan dihadapi baik oleh guru maupun siswa. Apabila diperhatikan tentang proses belajar mengajar, maka kita dapat berasumsi bahwa salah satu gejala negatif sebagai suatu penghalang dan kesulitan yang sangat menonjol dalam proses belajar mengajar adalah rendahnya keterampilan dalam mengembangkan pengajaran.

Dalam proses belajar mengajar banyak metode-metode yang dapat digunakan dalam rangka penyampaian suatu bidang studi. Namun metode-metode yang telah ada itu kadang-kadang tidak menjamin suatu keberhasilan. Itu tergantung pada guru bagaimana memilih suatu metode yang sesuai dan cocok dengan materi yang disampaikan atau saat berlangsung proses belajar mengajar, semua itu merupakan kemampuan dan keterampilan guru dalam menganalisa semua metode dan penguasaannya. Penulis merasa perlu membahas masalah keterampilan mengajar guru terhadap kemampuan guru SD. Sebab keterampilan mengajar sangat menentukan berprestasi atau tidaknya mata pelajaran yang diajarkan.

Sehubungan dengan keterampilan berbicara secara garis besar ada tiga jenis situasi berbicara, yaitu interaktif, semiaktif, dan noninteraktif. Situasi-situasi berbicara interaktif, misalnya percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya pergantuan anatara berbicara dan mendengarkan, dan juga memungkinkan kita meminta klarifikasi, pengulangan atau kiat dapat memintal lawan berbicara, memperlambat tempo bicara dari lawan bicara. Kemudian ada pula situasi berbicara yang semiaktif, misalnya dalam berpidato di hadapan umum secara langsung. Dalam situasi ini, audiens memang tidak dapat melakukan interupsi terhadap pembicaraan, namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka. Beberapa situasi berbicara dapat dikatakan bersifat noninteraktif, misalnya berpidato melalui radio atau televisi. Berikut ini beberapa keterampilan mikro yang harus dimiliki dalam berbicara, dimana permbicara harus dapat :

  • Mengucapkan bunyi-bunyi yang berbeda secara jelas sehingga pendengar dapat membedakannya.
  • Menggunakan tekanan dan nada serta intonasu secara jelas dan tepat sehingga pendengar daoat memahami apa yang diucapkan pembicara.
  • Menggunakan bentuk-bentuk kata, urutan kata, serta pilihan kata yang tepat.
  • Menggunakan register atau ragam bahasa yang sesuai terhadap situasi komunikasi termasuk sesuai ditinjau dari hubungan antar pembicara dan pendengar.
  • Berupaya agar kalimat-kalimat untama jelas bagi pendengar.

Berbicara adalah bagian dari komunikasi lisan. Dalam setiap kegiatan berbicara selalu terlibat sejumlah faktor seperti :

  1. Pembicara
  2. Pembicaraan
  3. Penyimak
  4. Media
  5. Sarana (penunjang)
  6. Interaksi

Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Kegiatan berbicara selalu diikuti oleh kegiatan menyimak. Bila penyimak dapat memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara, maka terjadi komunikasi yang tepat. Setiap orang yang berbica didepan umum mempunyai tujuan tertentu. Tujuan berbicara dapat dibedakan atas lima golongan, yakni untuk:

  1. Mendorong/menstimulasi
  2. Meyakinkan
  3. Menggerakkan
  4. Menginformasikan
  5. Menghibur

Tujuan dikatakan mendorong atau menstimulasi apabila pembicara berusaha memberi semangat atau gairah hidup kepada pendengar. Reaksi yang diharapkan adalah menimbulkan inspirasi atau membangkitkan emosi para pendengar. Misalnya pidato Ketua Umum Koni di hadapan para atlet yang bertanding di luar negeri bertujuan agar para atlet mempunyai semangat yang cukup tinggi dalam rangka membela negara. Tujuan suatu uraian atau ceramah dikatakan meyakinkan apabila pembicara berusaha mempengaruhi keyakinan pendapat atau sikap para pendengar. Alat yang paling penting dalam uraian itu adalah argumentasi. Untuk itu diperlukan bukti, fakta, dan contoh kongkret yang dapat memperkuat uraian untuk meyakinkan pendengar. Reaksi yang diharapkan adalah adanya penyesuaian keyakinan, pendapat atau sikap atas persoalan yang disampaikan.

Tujuan suatu uraian disebut menggerakkan apabila pembicara menghendaki adanya tindakan atau perbuatan dari para pendengar. Misanya berupa seruan persetujuan atau ketidaksetujuan, pengumpulan dana, penandatanganan suatu resolusi, mengadakan aksi sosial. Dasar dari tindakan atau perbuatan itu adalah keyakinan yang mendalam atau terbakarnya emosi. Tujuan suatu uraian dikatakan menginformasikan apabila pembicara ingin memberi informasi tentang sesuatu agar para pendengar dapat mengerti dan memahaminya. Misalnya, seorang guru menyampaikan pelajaran dikelas, seorang dokter menyampaikan kebersihan lingkungan, seorang polisi menyampaikan masalah tata tertib berlalu lintas dan sebagainya.

Tujuan suatu uraian dikatakan menghibur apabila pembicara berusaha menggembirakan atau menyenangkan para pendengarnya. Pembicaraan seperti ini biasanya dilakukan dalam suatu resepsi,ulang tahun, pesta atau pertemuan gembira lainnya. Humor merupakan alat yang paling utama dalam uraian seperti itu. Reaksi yang diharapkan adalah timbulanya rasa gembiira,senang,dan bahagia bagi para pendengar.

Tidak ada metode pembelajaran berbicara yang sempurna. Guru dituntut untuk mampu memilih dan menentukan metode yang paling sesuai dengan situasi yang dihadapinya di kelas. Adapun metode pembelajaran berbicara yang dapat dipilih adalah:

a)      ulang-ucap;

b)      lihat-ucapkan;

c)      memerikan;

d)     menjawab pertanyaan;

e)      bertanya;

f)       pertanyaan menggali;

g)      melanjutkan cerita;

h)      menceritakan kembali;

i)        percakapan;

j)        parafrase;

k)      reka cerita gambar;

l)        bercerita;

m)    memberi petunjuk;

n)      melaporkan;

  • o)      bermain peran;

p)      wawancara;

q)      diskusi;

r)       bertelepon;

s)       dramatisasi.

Salah satu aspek yang penting adalah aspek berbicara. Dengan keterampilan berbicara siswa akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaan secara lisan dalam konteks dan situasi pada saat mereka sedang berbicara. Untuk meningkatkan keterampilan berbicara, perlu adanya pembelajaran yang sesuai, salah satunya adalah pembelajaran dramatisasi kreatif. Dengan pembelajaran dramatisasi kreatif diharapkan hasil ketrampilan berbicara siswa menjadi meningkat dan lebih baik.

Berbicara dan mendengarkan adalah dua jenis keterampilan berbahasa lisan yang sangat erat kaitannya. Berbicara bersifat produktif, sedangkan mendengarkan bersifat reseftif. Dalam pemerolehan atau belajar suatu bahasa, keterampilan berbahasa jenis reseftif tampak banyak mendukung pemerolehan bahasa jenis produktif. Dalam suatu peristiwa komunikaasi sering kali beberapa jenis keterampilan berbahasa digunakan secara bersama-sama guna mencapai tujuan komunikasi. Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain bergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang, misalnya profesi sebagai manager, jaksa, pengacara, guru, dan wartawan.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah sebelumnya, maka penulis menyimpulkan rata-rata anak masuk Sekolah Dasar (SD), terutama yang berada di kota sudah dapat berbahasa Indonesia sebagaimana orang dewasa. Sudah dapat atau sudah mampu diartikan sebagai kemampuan atau kompetensi menggunkan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi sehari-hari, misalnya untuk berbicara dengan orang tuanya atau dengan teman sepermainnya atau dengan yang lainnya. Akan tetapi, ini baru salah satu segi dari kemampuan berbahasa Indonesia. Kemampuan berbahasa (berbicara) ragam formal tidak akan diperoleh dengan sendirinya. Kemampuan ini harus direnggut lewat jalur sekolah, lewat program yang direncanakan secara khusus, dan lewat latihan-latihan. Bahasa sebagai alat komunikasi digunakan melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Kegiatan yang paling praktis dan taktis untuk melakukan komunikasi ialah berbicara. Di mana saja, kapan saja, dan siapa saja berbicara untuk berkomunikasi. Bahkan terhadap bayi yang belum mampu berbahasa pun orang menyapa dengan bahasa. Oleh karena itu, guru yang mengajarkan keterampilan berbahasa (dengan fokus berbicara) diharapkan dapat memberikan dorongan kepada peserta didik melalui perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia dengan baik.

B.     Saran

Untuk lebih meningkatkan mutu penelitian ini, penulis dapat menyampaikan saran-saran sebagai berikut:

  1. Sebagai seorang guru, dalam melaksanakan proses belajar mengajar, hendaknya memperhatikan suasana dan kondisi lingkungan yang tenang dalam berbicara, karena dengan adanya gangguan yang berupa apapun agar disingkirkan terlebih dahulu sebelum para siswa melakukan praktek berbicara.
  2. Sebagai tenaga pendidik perlu memperhatikan hal-hal yang menyebabkan timbulnya problem atau masalah dalam keterampilan berbicara dalam pengajaran bahasa Indonesia agar dalam penerapannya dapat meningkatkan kemampuan siswa sekolah dasar dalam pembelajaran berbicara.

DAFTAR PUSTAKA

H.R, Fatoni (2005, 27 Desember). “Strategi Pembelajaran Menyimak-Berbicara” (online). Tersedia: http://fatonipgsd071644221.wordpress.com/. (11-06-2012).

Khotimah, Khusnul (2011, 16 November). “Pembelajaran Anak Usia Dini (0-3         tahun)” (online). Tersedia: http://blog.elearning.unesa.ac.id. (06-06-2012).

Lienda (2011) “Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Lisan” (online). Tersedia: http://liendaajja.wordpress.com/. (10-06-2012).

Nurjamal, Daeng dkk. 2011. Terampil Berbahasa. Cetakan 2. Bandung: Alfabeta.

Widodo, Trubus (2012). “Mengatasi Masalah Berbicara dan Menulis”. (online). Tersedia: http://terapilintah.org/mengatasi-masalah-berbicara-dan-menulis.html. (06-06-2012).

Yuono, Heru dkk. (2010, 17 Februari). “Peningkatan Kemampuan Berbahasa Lisan di Kelas Tinggi”. (online). Tersedia: http://herusweet.blogspot.com/2010/02/ peningkatan-kemampuan-berbahasa-lisan.html. (11-06-2012).


 

RIWAYAT HIDUP

MAGFIRA, dilahirkan di Cabenge Kab. Soppeng pada tanggal 04 April 1993, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Merupakan buah pernikahan H.Judding dengan Hj.Rabi. Setelah menempuh pendidikan di SDN 202 Walennae Kec. Lilirilau Kab. Soppeng pada tahun 2005 dan SMP Negeri 1 Lilirilau Kab. Soppeng pada tahun 2008, melanjutkan ke SMA Negeri 1 Liliriaja Kabupaten Soppeng tahun 2011. Dan akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Negeri Makassar (UNM) Kampus VI Watampone, mengambil jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD).